Wawancara / Berita

Achmad Baidowi: PPP Padukan Tradisi Lama dan Baru

akurat logo
Dedi Ermansyah
Sabtu, 24 Juni 2017 12:08 WIB
Share akurat gplus
 
Anggota Komisi II DPR RI dari Fransi PPP, Achmad Baidowi
Anggota Komisi II DPR RI dari Fransi PPP, Achmad Baidowi
(Foto: AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Achmad Baidowi, politisi muda yang saat ini mulai bersinar di DPR mempunyai banyak kisah menarik tentang kiprahnya di dunia politik nasional. Pemuda berdarah Madura kelahiran 13 April 1980 ini memang baru dikenal sebagai politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yaitu sejak dilantik menjadi anggota DPR pada 28 Juli 2016, namun sebenarnya sejak kecil ia sudah bergelut dengan partai berlambang Ka’bah tersebut.

Kepada wartawan Akurat.co, Dedi Ermansyah, Baidowi bercerita tentang bagaimana suasana PPP yang dirasakan di kampungnya di Kecamatan Kalibaru Banyuwangi Jawa Timur. Kedua orang tuanya memang berasal dari Madura, namun  Baidowi dilahirkan di Banyuwangi dan menempuh pendidikan dasar dan menengah utama di kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Sejak dahulu, masyarakat Madura pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya memang tidak bisa dilepaskan dari PPP. Apalagi di zaman Orde Baru, PPP adalah satu-satunya representasi partai umat Islam. Orang Madura yang memegang teguh keislaman mereka pun secara ideologis saat itu hanya dekat dengan PPP. Tidak heran jika kemudian, keluarga Baidowi juga menjadi simpatisan PPP.

Berikut wawancara lengkap Dedi dengan Anggota Komisi II DPR RI tersebut di kantornya yang berada di lantai 15, Gedung Nusantara I DPR beberapa waktu lalu.

Sejak kapan Anda berkenalan dengan PPP?

Sejak kecil saya sudah berada di lingkungan PPP. Masyarakat desa saya di Kalibaru, Banyuwangi rata-rata adalam simpatisan PPP di masa Orde Baru. Ayah saya bahkan merupakan salah satu pengurus ranting PPP tingkat desa. Saya sudah merasakan perjuangan PPP dari ayah saya yang saat itu menjadi pengurus PPP, walaupun di tingkat desa.

Waktu kecil apakah sudah pernah ikut aktivitas PPP?

Saat usia SMP saya pernah diajak ayah mengikuti sebuah seminar atau pelatihan, saya lupa bentuknya kegiatannya, yang diadakan PPP. Saat itulah saya mengenal PPP sebagai sebuah organisasi. Saya juga mengenal organisasi IPNU yang merupakan salah satu yang tak terpisahkan dengan PPP saat itu. NU memang merupakan salah satu pilar kekuatan PPP sejak adanya fusi partai pada 1973 silam, dan sejak itu keduanya tidak bisa dipisahkan.

Apakah hubungan dengan PPP itu tetap terjalin di masa remaja hingga dewasa?

Ya. Setelah SMP, saya melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) dan sekaligus mondok di Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan. Nuansa PPP di pesantren ini sangat kental. Ini adalah salah satu pesantren PPP di Madura. KH Muhammad Syamsul Arifin yang mengasuh pondok pesantren ini merupakan kyai khos PPP. Pengaruh beliau sangat besar bagi PPP di Madura, khususnya di Pamekasan.

Pesantren dan PPP juga merupakan dua hal yang tak terpisahkan sejak lama. PPP adalah media perjuangan kaum santri di bidang politik. Pesantren Banyuanyar sejak dulu meyakini bahwa perjuangan politik juga harus dilakukan disamping perjuangan di bidang pendidikan yang sudah dilakukan sejak pesantren ini berdiri.

Pada tahun 1997, yang merupakan Pemilu terakhir di masa Orde Baru, saya dan para santri Pesantren Banyuanyar juga ikut kampanye PPP. Saya saat itu sudah 17 tahun dan bisa menyalurkan suara politik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Apakah karena itu semua Anda mempunyai ikatan emosional dengan PPP.

Ya, semua pengalaman berjuang bersama PPP sejak kecil itulah membuat ikatan emosional saya dengan PPP tercipta dengan sendirinya. Saat kuliah di UIN Sunan Kalijaga (angkatan 2000) Yogyakarta pun saya merasa ada ikatan yang kuat dengan PPP. Sehingga saat ada pembicaraan politik, khususnya tentang PPP, saya sedikit tersentak dan merasa ada ikatan emosional.

Setelah dari Yogyakarta, Anda kemudian menjadi wartawan. apakah saat itu juga tetap menjaga hubungan emosional dengan PPP?

Inilah uniknya. Karena saya mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan PPP, maka secara tidak langsung mendorong saya untuk mengetahui lebih banyak tentang partai ini saat menjadi Wartawan di Koran SINDO. Ketertarikan saya dengan PPP ini membuat saya sering berhubungan dengan para petinggi PPP dan bertanya serta memberitkan dinamika politik PPP di tingkat nasional.

Saya pun saat itu mulai banyak bersinggungan dengan Bapak Suryadharma Ali sebagai Ketua Umum PPP saat itu. Juga dengan Bapak Muhammad Romahurmuziy, saat itu menjabat Wasekjen DPP PPP (sekarang Ketum PPP) dan Bapak Arwani Thomafi (dulu menjabat Wasekjen sekarang Waketum PPP) yang kebetulan satu almamater dengan saya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kedekatan saya dengan PPP ini membuat saya selalu hadir dalam acara-acara PPP, walaupun saat itu kapasitas saya adalah wartawan. Para pengurus tampaknya juga menyadari bahwa secara ideologis, saya adalah simpatisan PPP. Akhirnya pada Muktamar VII PPP di Bandung pada 2011, saya ditawari menjadi salah satu pengurus PPP.

Saya saat itu masih menjadi wartawan dan saya tidak izin ke kantor, karena itu adalah hak politik sepanjang tidak melanggar kode jurnalistik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Banyak orang mengatakan bahwa masa depan karir seorang politisi tidak bisa diprediksi dan tidak selalu berakhir bagus. Kenapa Anda memilih keluar dari wartawan yang saat itu sudah jadi redaktur?

Saat masih jadi mahasiswa dan masuk organisasi HMI saya memang tidak bersinggungan dengan politik praktis, apalagi di tingkat nasional. Begitu juga saat pertama kali ke Jakarta pun belum terpikir masuk politik. Namun saat transisi dari wartawan menjadi politisi itu tetap ada prosesnya yang panjang dan tidak serta merta.

Selain karena mempunyai sejarah ideologis dengan PPP sejak kecil, pergaulan dengan politisi PPP di tingkat nasional pun merupakan faktor yang membuat saya akhirnya mengambil keputusan terjun langsung ke dunia politik. Dan memilih PPP sebagai saluran politiknya. Saya keluar dari profesi wartawan pada 2013 dan mencurahkan semua waktu di partai.

Proses menjadi calon legislatif bagaimana?

Proses inipun tidak instan. Saya punya modal sosial sebagai alumni Pesantren Banyuanyar yang merupakan pesantren PPP. Komunikasi politik saya sebagai wartawan politik juga baik. Saya bisa berkomunikasi dengan baik dengan para politisi dan konstituen serta dengan calon pemilih pada umumnya. Saya juga sudah lama bersinggungan dengan partai dan isu politik.

Pada 2008, saat ada Pansus RUU Pemilu saya sudah di bertugas DPR. Saat itu anggota Pansus dari PPP adalah Lukman Hakin Saifuddin, Lena Maryana Mukti, dan Tamam Achda yang semuanya sekarang berada di kepengurusan PPP bersama saya.

Apakah pengalaman sebagai wartawan juga sangat berpengaruh pada profesi Anda sekarang?

Porfesi wartawan adalah jembatan emas menuju pengembangan kualitas diri dan profesi yang lebih baik. Para wartawan lebih mudah nyambung saat berkomunikasi dengan berbagai hal dan bisa berhubungan dengan berbagai profesi.

Pilihan keluar dari wartawan juga mempertimbangkan banyak hal. Diantaranya adanya afiliasi pemilik media tempat saya bekerja dengan partai tertentu, saat pemilik media tempat saya bekerja masuk ke partai politik.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Apa perbedaan yang dirasakan, jika dulu hanya merasakan PPP dari luar, dan kini berada di kepengurusan partai?

Berada di kepengurusan PPP saya bisa merasakan langsung atmosfir pengambilan keputusan politik di tingkat nasional. Kalau sebelumnya kan hanya mendengarkan dari berita-berita.

Apa yang Anda perjuangkan di kepengurusan PPP?

Saat masuk PPP saya bisa lebih memberikan gambaran tentang basis-basis PPP dimana saya menyatu dengannya. Misalnya saya memperlihatkan bahwa Madura itu adalah basis PPP, termasuk pesantren-presantrenya seperti Pesantren Banyuanyar dan lainnya. Saya mencoba memotret kantong PPP dari prespektif orang lokal.

Orang yang tiba-tiba berada di pusat berbeda dengan mereka yang berproses dari bawah yang mengalami langsung kondisi di masyarakat. Masing-masing kantong PPP mempunyai dinamika berbeda yang juga harus disikapi berbeda juga. Saya sebagai orang Madura mengetahui dinamika di Madura ada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya. Saya bisa memberikan prespektif lokal yang bisa dipertimbangkan dalam mengambil keputusan di tingkat nasional.

Misalnya saat ada kekecewaan saat DPW PPP Jakarta memilih Ahok-Djarot pada Pilkada DKI lalu, saya memberikan penjelasan dengan pendekatan yang baik kepda masyarakat Madura. Misalnya memberi pengertian bahwa itu adalah keputusan DPW DKI Jakarta bukan DPP PPP dan itu adalah hak politik DPW Jakarta. Dalam menghadapi masalah ini jangan serta merta kita juga frontal membela, namun memberikan pengertian, terutama jika ada berita media yang tak benar.

Kita lakukan pendekatan dan komunikasi dengan para kyai yang merupakan simpul-simpul massa PPP. Kita datangi satu-satu.

Foto: AKURAT.CO/Sopian

Bagaimana Anda berkomunikasi dengan konsituen di Madura?

Saya melakukan pendekatan yang berbeda kepada masing-masing kalangan. Misalnya kepada anak muda, kita memaksimalkan media sosial. Mereka tidak bisa didekati dengan “peci”, namun dengan program yang menyentuh kebutuhan dan aspirasi mereka.

Kepada kalangan umum umat Islam di Madura misalnya kita membuat program wakaf al-Quran. Dan terlihat responya sangat positif. Masyarakat bisa mengakses al-Qur’an dengan kualitas cetakan yang bagus sehingga bisa mengaji dan beribadah dengan lebih baik.

Dalam memajukan PPP, kami memegang berprinsip “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). []


Editor. Ridwansyah Rakhman

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Revolusi Strategi dan Taktik Perang Berubah Karena Teknologi

Minggu, 19 November 2017 15:22 WIB

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan diyakini mampu memicu perang baru di masa depan.


Polrestabes Surabaya Ringkus Komplotan Begal saat Melakukan Aksinya di Suramadu

Minggu, 19 November 2017 15:22 WIB

Komplotan ini biasa beraksi beranggotakan 5 hingga 10 orang dan mengincar pengendara sepeda motor dari golongan anak remaja


Luis Milla Telat 8 Menit untuk Bertemu Media

Minggu, 19 November 2017 15:21 WIB

Tim besutannya kembali menelan hasil mengecewakan.


Wali Kota Rai Mantra Ajak PRABU Berkontribusi dalam Pembangunan

Minggu, 19 November 2017 15:20 WIB

Paiketan Rantauan Buleleng (PRABU) Catur Muka menggelar berbagai kegiatan sosial hingga sarasehan di Kota Denpasar


Masyarakat Bali Diimbau Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor

Minggu, 19 November 2017 15:16 WIB

Program pemutihan bunga dan denda pajak kendaraan bermotor di Bali akan berlangsung hingga Desember 2017 mendatang.


Pakai Gaun Pernikahan, Pemain FTV Ini Mirip Nagita Slavina

Minggu, 19 November 2017 15:06 WIB

Fitri Ayu mirip Nagita Slavina, benarkah?


Sore Ini, Kahiyang-Bobby Lakukan Prosesi Haroan Boru

Minggu, 19 November 2017 15:00 WIB

Prosesi Haroan Boru akan berlangsung selama dua jam.


YLKI Minta Polda Sumut Telusuri Kuliner Berbahan Biji Ganja

Minggu, 19 November 2017 15:00 WIB

Demi keamanan dan kenyamanan konsumen


Golkar DIY Minta Setya Novanto Fokus Hadapi Kasus Hukumnya

Minggu, 19 November 2017 14:59 WIB

Jangan sampai pohon beringin kita tumbang gara-gara ada dahan yang kena hama


Preview: Juventus Menjajal Keangkeran Markas Sampdoria

Minggu, 19 November 2017 14:56 WIB

Sampdoria belum terkalahkan ketika tampil sebagai tuan rumah.


Polres Metro Bekasi Gelar Operasi Nila 2017

Minggu, 19 November 2017 14:52 WIB

Demi menekan peredaran narkoba di daerah Bekasi


Banyak Menelan Korban, Pemkab Gianyar Lakukan Eliminasi terhadap Anjing Liar

Minggu, 19 November 2017 14:39 WIB

Demi menekan tingginya kasus gigitan yang disebabkan oleh anjing liar


Sinyal Golkar Semakin Kuat Dukung Munafri di Pilwalkot Makassar

Minggu, 19 November 2017 14:36 WIB

Sinyal DPD Partai Golkar Makassar untuk mengusung CEO PSM, Munafri Arifuddin menjadi Bakal Calon Wali Kota Makasar semakin menguat.



Politisi PDI Perjuangan Minta Presiden Jokowi Kirim Surat Usulan Pengganti Jenderal Gatot

Minggu, 19 November 2017 14:35 WIB

Pergantian Panglima harus dilakukan segera