Wawancara / Berita
Hari Pahlawan (1)

"Banyak yang Harus Dikorbankan untuk Menjadi Pahlawan"

akurat logo
Agung Nugroho
Kamis, 09 November 2017 14:46 WIB
Share akurat gplus
 
Mantan atlet panahan Indonesia yang meraih perak Olimpiade Seoul 1988 sebagai medali pertama Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana Saiman, kini menghabiskan hari-harinya untuk membina atlet muda yang diharapkan bisa mengulang sukses di pentas dunia
Mantan atlet panahan Indonesia yang meraih perak Olimpiade Seoul 1988 sebagai medali pertama Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana Saiman, kini menghabiskan hari-harinya untuk membina atlet muda yang diharapkan bisa mengulang sukses di pentas dunia
( AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO,  Tujuh puluh dua tahun sejak pertempuran di Surabaya antara tentara dan milisi Indonesia melawan prajurit Britania Raya serta Belanda yang tergabung dalam NICA, 10 November 1945, kini Indonesia harus menerima kisah tersebut dengan sebuah peringatan: “Hari Pahlawan.”

Di Olimpiade Seoul, Korea Selatan, 1988, tiga srikandi Indonesia menunjukkan “kepahlawanan” mereka dengan merebut medali perak sebagai medali pertama Indonesia sejak pesta olahraga terakbar di dunia itu digelar pada 1896.

Gelar anumerta yang diberikan seiring memperingati Hari Pahlawan setiap 10 November tersebut jatuh ke tangan putri panahan Tanah Air: Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani.

Trio peraih medali perak panahan Olimpiade Seoul 1988, Lilies Handayani-Nurfitriyana Saiman-Kusuma Wardhani, saat menerima medali. (Foto: ISTIMEWA).

Bahkan, untuk mengenang jasa ketiganya pasca mengharumkan Indonesia di bawah didikan keras atlet panahan senior, Donald Pandiangan, terciptalah sebuah film biopik berjudul “3 Srikandi” yang tayang perdana pada 4 Agustus 2016 lalu.

Reporter AKURAT.CO, Agung Nugroho, berkesempatan mewawancarai  salah satu dari pemanah yang merebut medali pertama Indonesia di Seoul, Nurfitriyana Saiman, di Stadion panahan kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Rabu (8/11).

Wanita kelahiran Jakarta, 7 Maret 1962 (55 tahun), itu berbicara tentang perlakuan negara terhadap atlet panahan, pengorbanan mengibarkan Merah Putih di Korea Selatan, pola latihan yang jauh lebih alami pada masa lalu ketimbang masa sekarang, hingga film 3 Srikandi. Kami membaginya dalam tiga bagian. Berikut petikannya:

Bagaimana awalnya Anda menjadi atlet panahan?

Jadi sebelumnya itu saya aktif di senam lantai, terus ada kakak ipar saya Zefilia Usman, itu pemanah tahun 60-an. Jadi saya diajak oleh beliau untuk coba ikut lapangan. Jadi saya terjun di panahan itu dari tahun 79. (Tahun) 80 ikut kejuaraan. (Tahun) 81 saya mulai mengikuti SEA Games, Asia Tenggara, dan itu tentunya melalui seleksi yah.

Untuk SEA Games itu saya dari tahun 81 sampai dengan tahun 2000, tentunya kita mempertahankan emas perorangan dan beregu di Asia Tenggara setiap penyelengaraan di SEA Games dari tahun segitu. Kita selalu bawa pulang perorangan, beregu di putri atau di putra selalu kita bawa seperti itu.

Kapan dan di mana Anda mengharumkan nama negara?

Tentunya setiap ada event yah seperti pesta olahraga Asia Tenggara, seperti SEA Games. Itu kan kejuaraan besar juga ya Asia Tenggara. Itu yang saya bilang, kita selalu mengibarkan Merah Putih untuk Indonesia. Dan yang paling tinggi itu ya di Olimpiade 88 di Seoul. Itu juga medali pertama Indonesia – sejak Olimpiade perdana tahun 1896 di Athena, Yunani – dan kita kebetulan mendapatkan medali perak pada saat itu.

Nurfitriana, Lilies, dan Kusuma, bersama pelatih Donald Pandiangan, di Seoul 1988. (Foto: ISTIMEWA).

Bagaimana perlakuan negara terhadap Anda saat itu? Apa bedanya dengan saat ini?

Untuk perbedaan perlakuan negara terhadap atlet (dulu dan sekarang) itu jauh perbedaannya. Sekarang benar-benar perhatiannya penuh seperti itu, begitu pula untuk masa depan para atlet yang berhasil pada saat ini, itu mereka diberikan untuk masuk menjadi PNS, pegawai negeri.

Dan tentunya di bidang olahraga yah untuk PNS-nya. Kalau kami dulu, ya termasuk alhamdulillah ada perhatian, tapi tidak seperti sekarang. Kalau sekarang Asia Tenggara saja sudah diperhatikan untuk jadi PNS. Tapi kalau kita dulu mencapai prestasi tinggi dulu. Jadi paling tinggi itu Olimpiade 88, baru kami diperhatikan untuk jadi karyawan PNS. Bukan PNS yah, tapi pegawai negeri.

Untuk mendapatkan prestasi, apakah ada pengorbanan? Apa bentuk pengorbanan itu?

Ini rata-rata bukan hanya saya saja, tapi semua atlet pasti ada pengorbanannya. Sekolahnya, kuliah, yang sudah berumah tangga. Itu salah satu pengorbanan. Kita sudah meninggalkan semuanya, kalau kita tidak melakukan yang terbaik untuk negara ini, itu sia-sia sekali. Jadi semua itu pasti ada pengorbanannya. Pengorbanannya banyak.

Bagaimana perasaan Anda saat meraih prestasi pertama di kancah Internasional, dan ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya?

Untuk Asia Tenggara tentunya kita pertama kan Asia Tenggara. Kita bisa menaikkan bendera, lalu menyanyi Indonesia Raya, seperti itu. Pertama ya seperti kita upacara saja yah, kaya di sekolah. Tapi lama-lama ke sini, kita dikasih masukan untuk betapa besarnya, betapa bangganya kalau kalian itu bisa mengibarkan bendera Merah Putih, bendera kita di ajang pesta olahraga yang besar, khususnya seperti Olimpic. Itu pesta olahraga yang paling terbesar.

Jadi kan ada Asia Tenggara, lalu ada Asia, kaya besok ada Asian Games – yang diselenggarakan pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 – itu hanya Asia saja. Tapi kalau Olimpic sudah dunia, pesta olahraga dunia.  Jadi itu yang paling besar. Itu sangat bangga kita. Kita sangat bangga pada saat itu, tapi ya sesuai persiapannya yang keras.

Persiapannya sekeras apa?

Kita dulu metodenya belum seperti sekarang, seperti fitness. Kalau sekarang itu ada korKor itu hanya pakai badan kita sendiri, enggak pakai beban. Itu sekarang modelnya seperti itu. Tapi kalau dulu kita latihan di Sukabumi, yang di mana kita menyatu dengan alam. Seperti menimba, seperti bawa air di ember, jadi gitu. Seperti gergaji pohon. Jadi memang benar-benar ya kita sama pelatih kita, almarhum ya dibikin seperti itu. Lebih mencintai tanah air, lebih mencintai alam, seperti itu.

Pelatih atlet peraih medali perak Olimpiade Seoul 1988, Donald Pandiangan. Donald menikah dengan salah satu anak didiknya, Kusuma Wardhani. (Foto: ISTIMEWA).

Jadi enggak ada yang namanya fitness, apa ‘gitu. Lari juga ya kita lari di bukit. Lari-lari diukur Vo2Max-nya itu lari di bukit. Jadi masih benar-benar alam dibanding yang sekarang. Jadi kebetulan pelatih kita almarhum (memiliki kepribadian) keras. Jadi cobaan untuk beliau juga keras – politik versus olahraga. Ya kita di rumah tuh ya mungkin enggak pernah mendapat kata-kata sedikit kasar. Tapi alhamdulillah ya enggak kebawa. Kita harus ikuti, dan mana yang enggak kita tahu.

Untuk menjadi atlet panahan yang berprestasi di kancah internasional dan mengharumkan bangsa butuh waktu. Bagaimana pendapat Anda tentang atlet yang ingin instan? 

Pasti harus butuh waktu. Yaitu apa? Ya pengalaman mereka bertanding. Jadi, enggak bisa dia hanya didik sama pelatih saja, enggak bisa. Banyak pengalaman bertanding itu satu. Lalu, perkembangan pola pikir dia. Misalnya kita lihat tekniknya. 

Enggak bisa, semua enggak ada yang instan, kecuali dia mulai dari usia muda. Jadi pas usia-usia kalau kita mau bikin di 17 itu dia punya prestasi untuk Asia Tenggara, mereka harus dari kecil. Ya enggak harus dari kecil sih, SD-lah. Kalau pemanah dulu itu kan mulainya sudah telat, jadi prestasinya sudah tua. Tapi Insya Allah sekarang enggak, soalnya sudah banyak menjamur.

Siapa saja atlet panahan yang berprestasi dan mengharumkan bangsa di kancah internasional, tapi terabaikan, padahal perlu dipromosikan?

Sebenarnya saya memperhatikan itu semuanya. Alhamdulillah mereka sudah. Sekarang yang di bawah saya itu mereka sedang sibuk dengan kerjaannya. Jadi enggak ada yang terabaikan. Mereka lagi aktif di pekerjaannya. Mungkin Insya Allah kalau selesai mereka bekerja, mereka pasti – dipekerjakan oleh pemerintah. Untuk di daerah masing-masing mereka itu sih melatih, membimbing anak-anak kecil. Mungkin kalau pekerjaannya sudah selesai. Saya kan sudah mau pensiun nih di kantor, jadi saya bisa melatih di pusat.

Bagaimana pendapat Anda tentang semua atlet panahan yang berprestasi dan mengharumkan bangsa – tidak hanya di Olimpiade – bisa menjadi pahlawan negara?

Saya rasa intinya itu dari dasar disiplin. Dengan disiplin diri ya kan, dia tahu. Jadi gini, kalau seandainya orang mempunyai cita-cita, keinginan, tapi prosesnya itu enggak ada, dan enggak mempunyai dasar yang kuat, seperti saya bilang tadi disiplin, biar bagaimana juga akan susah – meraih prestasi di kancah internasional dan mengharumkan Indonesia.

Itu kalau ingin menjadi pahlawan. Jadi kalau orang menginginkan sesuatu atau menjadi pahlawan, atau mau mengibarkan Merah Putih dengan cara lain di event besar itu ya intinya disiplin, kerja keras. Bisa, dan itu saya terapkan di Pelatnas. Semua bisa terjadi. Saya hanya kasih poin itu.[]

bersambung...

 

 


Editor. Hervin Saputra

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

PPP Ingin Cawapres Jokowi Senapas dengan Partai Islam

Minggu, 22 April 2018 11:17 WIB

"kita pastikan pak Jokowi mendapatkan pendamping paling sesuai."


Bulu Kuduk Anies Baswedan Berdiri Saat Cium Rambut dan Jenggot Nabi Muhammad

Minggu, 22 April 2018 11:16 WIB

Presiden Erdogan lalu memegang botol itu dan menciumnya. Kemudian ia berikan botol itu pada Anies.


Perang Laut Nelayan Tradisional vs Nelayan Pukat Trawl Belum Surut

Minggu, 22 April 2018 11:02 WIB

Pukat hela dan pukat tarik dan sejenisnya tidak dibenarkan lagi beroperasi di perairan Indonesia, sejak Januari 2018.


Petugas Imigrasi Lhokseumawe Sulit Data Pengungsi Rohingya karena Bahasa

Minggu, 22 April 2018 11:01 WIB

Dari hasil pemeriksaan semua pengungsi itu merupakan imigran ilegal.


Jeff Goldblum Bicara Soal Peran Ian Malcolm di Jurassic World: Fallen Kingdom

Minggu, 22 April 2018 11:00 WIB

Jeff Goldblum akan kembali berperan sebagai Dr. Ian Malcolm di Jurassic World: Fallen Kingdom.


Polemik Partai Allah dan Partai Setan, Rommy: Memang Dimaksud untuk Politik

Minggu, 22 April 2018 10:54 WIB

Ketum PPP Rohahurmuziy (Rommy) tak sepakat dengan ujaran Mantan Ketua MPR Amien Rais.


Beda Harga di Rak dan Kasir, Mana yang Dipakai?

Minggu, 22 April 2018 10:54 WIB

Konsumen berhak mendapatkan harga yang sesuai dengan yang sudah ditetapkan.


Sosialisasi KAI Access, PT KAI Ajak Masyakarat Hidup Sehat

Minggu, 22 April 2018 10:47 WIB

"Ini juga sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat."


Harga Bawang Dan Cabai di Ambon Alami Kenaikan

Minggu, 22 April 2018 10:45 WIB

Harga bawang dan cabai yang ditawarkan di pasar tradisional Kota Ambon terus bergerak naik.



Usai Mabuk Bareng, Tabrak Teman Sendiri sampai Tewas

Minggu, 22 April 2018 10:43 WIB

Setelah menabrak, Kamsin tidak segera menolong. Dia malah pergi ke Penjaringan.


AXA Dorong Masyarakat Hidup Sehat

Minggu, 22 April 2018 10:42 WIB

Peningkatan kesehatan menjadi salah satu dari 10 prioritas nasional yang telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo.


Nadine Chandrawinata Ingin Sambangi Pulau-pulau Tanpa Nama

Minggu, 22 April 2018 10:42 WIB

Pulau-pulau paling luar Indonesia menjadi incaran Nadine Chandrawinata. Baginya, pulau-pulau tersebut mengajarkan cara bertoleransi.


Preview: Arsenal Coba Bangkit di Tengah Perpisahan Wenger

Minggu, 22 April 2018 10:41 WIB

Arsenal akan menjamu West Ham di Emirates Stadium, nanti malam WIB.


3 Cara Agar Hidup Terasa Lebih Ringan

Minggu, 22 April 2018 10:39 WIB

Beban hidup seseorang tentunya berbeda-beda. Cara menghadapinya pun berbeda-beda.