Wawancara / Berita
Hari Pahlawan (2)

"Selain Presiden, Kini Hanya Atlet yang Bisa Mengibarkan Merah Putih"

akurat logo
Agung Nugroho
Kamis, 09 November 2017 16:11 WIB
Share akurat gplus
 
Peraih medali perak panahan Olimpiade Seoul 1988, Nurfitriyana Saiman, menganggap perkembangan panahan kini kian pesat.
Peraih medali perak panahan Olimpiade Seoul 1988, Nurfitriyana Saiman, menganggap perkembangan panahan kini kian pesat.
( AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Bagi mantan pemanah yang mempersembahkan medali perak Olimpiade Seoul 1988 yang merupakan medali pertama Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana Saiman, menjadi pahlawan tidak selalu harus populer seperti atlet.

Menurutnya, setiap individu yang berjuang dalam posisinya masing-masing adalah pahlawan. Namun, bagi anak muda yang memilih jalan sebagai atlet, bermimpi menjadi pahlawan di bidang olahraga adalah hal yang baik.

Reporter AKURAT.CO, Agung Nugroho, berkesempatan mewawancarai Nurfitriyana di Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu (9/10). Nurfitriyana berbicara tentang makna hari pahlawan, perkembangan fasilitas panahan di Indonesia, dan kendala untuk menjadi pemanah berprestasi. Berikut petikannya:

Bagaimana pendapat Anda tentang minimnya generasi muda yang tidak ingin bercita-cita menjadi atlet panahan? Alasannya karena peran orang tua (mantan atlet ataupun non atlet), faktor ekonomi (biaya pembinaan dan jaminan hari tua). Sebab, aspek penghargaan ekonomi – bonus – bisa mendorong generasi muda mau menjadi atlet.

Tapi ini mungkin Anda belum melihat perkembangan panahan kali ya kan. Ok. Kalau sekarang enggak. Jadi sekarang mereka senang, itu satu. Karena apa? Kalau dulu mungkin peralatan agak sulit, sekarang mudah. (Peralatannya) ada yang ringan, dan bisa disewakan di klub itu. Akhirnya mereka suka, barulah ke orangtuanya, beli-in seperti itu.

Sekarang juga banyak event, banyak kejuaraan-kejuaraan kecil. Dan sekarang dibuat seperti apa? Di samping mereka memiliki piagam, medali atau piala, itu mereka mendapatkan Rupiah, yang paling tidak untuk bisa menunjang sekolahnya mungkin. Mungkin dia beli peralatan sekolah, sekarang seperti itu. Jadi, yang sekarang itu sudah banyak. Jadi sekarang memang sudah banyak.

Atlet panahan junior saat mengikuti turnamen Sipas Solo Open 2017 di Benteng Vastenburg, Solo, 20 Oktober silam. (Foto: ANTARA/Mohammad Ayudha).

Hampir setiap minggu mungkin ada antar klub gitu antara anak-anak kecil banyak. Minggu depan itu ada kejuaraan di Taman Mini apa gitu, terus di Pulomas juga ada yang latihan, dan itu menarik kejuaraannya. Memang enggak besar hadiahnya, tapi lumayanlah buat anak-anak. Pasti orang tuanya juga akan senang.

Bagaimana pandangan Anda mengenai "pentingnya mengokohkan semangat menjadi olahragawan di Hari Pahlawan"? Pasalnya, kecintaaan masyarakat Indonesia terhadap olahraga merupakan salah satu pilar pembentukan karakter bangsa.

Yang saya tahu kan setiap tahun kan ada tuh Hari Pahlawan. Nah, mungkin itu lebih sering lagi seperti kan ada ahli olahraga, seperti itu. Hari pahlawan itu untuk mengumpulkan para pahlawan di bidang macam-macam. Sekolah ada, olahraga ada. Indonesia ini sebenarnya sudah kaya dengan pahlawan. Kalau masih ada pahlawan tahun 45, kumpulkan semua.

Hari pahlawan nasional dirayakan oleh negara itu bagus saya rasa, seperti hari olahraga kan pernah itu diadakan. Biar nanti mungkin ke depan yang para junior itu ‘ah saya ingin menjadi pahlawan, saya ingin diundang pada Hari Pahlawan, kan besar jadinya. Betul enggakEnggak simple, semua kan ada, seperti tanggal 17 Agustus dirayakan.

Intinya setiap pahlawan olahraga harus dikumpulkan di Hari Pahlawan untuk mengokohkan semangat olahragawan sebagai salah satu pilar pembentukan karakter bangsa?

Iya, kaya kemarin di mana gitu, di Solo apa di Surabaya merayakan Hari Olahraga, saya lupa. Itu baru terasa. Pastinya kan nanti aku diekspos, ya kan. Hari Pahlawan. Tahun kemerdekaan 45 mungkin masih ada. Kan bangga loh. Sekarang mengibarkan Merah Putih di suatu event kan ada pelajar juga ada. Anak kecil itu apa? Itu pahlawan juga kan karena membela nama bangsa. Matematika, banyak loh. Mungkin ada juga kesenian. Di bidang macam-macam pasti akan dilihat. Mereka akan semangat akan menjadi pahlawan.

Dalam rangka mengokohkan semangat menjadi olahragawan tersebut, apakah kampanye kepahlawan olahraga masih kurang dirasakan masyarakat Indonesia?

Belum terlihat. Belum booming. Dikumpulin, ya namanya pahlawan kan ada seperti tadi, ada bagian kesenian. Syukur-syukur masih ada pahlawan revolusi. Semua pejuang ada di situ. Kan yang namanya pahlawan itu kan bukan hanya yang keras saja, yang membela tanah air, yang membela keluarganya, membela untuk sekolahnya, itu kan pahlawan, yang benar-benar hero di bidangnya. Tetapi dia belum mengibarkan bendera Merah Putih, itu saja. Jadi kalau namanya pahlawan itu kan yang kelihatan itu yang sudah mengibarkan Merah Putih, yang membela Bangsa dan Tanah Air.

Seberapa pentingnya mengibarkan Merah Putih di kancah internasional? Pasalnya Anda mengatakan atlet tidak bisa disebut pahlawan, kalau dia belum mengibarkan Merah Putih.

Perjuangannya. Kita jangan melihat ngibarin-nya. Perjuangannya. Perjuangannya dia dalam tugasnya dia. Jadi di dalam masing-masing atlet itu mempunyai jiwa tidak ingin terkalahkan, tapi sportivitas tinggi. Apa namanya? Daya juang. Sekarang siapa yang bisa mengibarkan Merah Putih? Selain Presiden yang bisa mengibarkan, ya atlet, enggak ada lagi.

Atlet panahan putri Diananda Choirunnisa, sukses mengibarkan bendera Indonesia dengan merebut medali emas SEA Games 2017. (Foto: ANTARA/Wahyu Putro A).

Perjuangan itu proses, enggak kita bertanding langsung menang, enggak. Proses itu yang kita mesti lawan pertama-tama. Selesai itu proses, kita bertanding, baru kita bertemu dengan kemenangan. Di situ pengorbanan waktunya habis, main habis, waktu kongkow-kongkow habis setiap hari.

Kemenpora sempat ingin mengubah persepsi bahwa "menjadi atlet itu keren". Lalu, bagaimana pendapat Anda?

Saya pernah dengar sih kata-katanya. Pokoknya namanya atlet, ini belum atlet yang menyumbang – prestasi di kancah internasional – yah, persiapan doang yah, itu enggak boleh susah. Semua fasilitasnya mesti nyaman, itu saja dulu nomor satu, fasilitas. Lalu gaji dia bulanan.

Apabila dia berhasil mengambil medali, terlebih lagi emas, ya Anda lihat sendiri perkembangannya begitu. Cukuplah saya rasa, yang penting bisa maintenance itu atletnya yang sudah berhasil. Dan mungkin (bantuan pemerintah) minim seperti itu lebih baik, (untuk) lebih berkembang lagi. Kita sudah jauh ketinggalan sama luar negeri, (terkait) fasilitas.

Sejauh mana ketertinggalan atlet panahan Indonesia dengan luar negeri?

Sebenarnya gini, di luar negeri, tarolah Korea yah, itu dia Asian Games saja, dia sudah mempunyai jaminan, seperti dia sudah mempunyai rumah tinggal. Olimpic itu dia sudah punya rumah tinggal, lalu tunjangan seumur hidup, itu sudah ada semuanya.

Jadi ada levelnya. Level Asia apa yang dia dapatkan. Jadi kalau atlet itu mau ‘ah enggak ah saya mau jaminan seumur hidup’, ya cari medali Olimpic, dapat mereka. Itu ada levelnya. Memang mungkin kita belum sampai ke sana, tapi pemerintah sudah mau, akan, seperti itu. Jadi memang sudah jauh perkembangannya. Sekarang kalau jadi atlet masa depannya (tidak terjamin), enggak – itu salah. Yang penting anak ini benar-benar mau, berhasil, otomatis.

Jadi atlet sudah tidak mempunyai pikiran yang buruk-buruk untuk menjadi atlet panahan?

Betul. (Tapi) Memang semua ada pengorbanannya, seperti dia mesti memilih antara sekolah atau prestasi. Kalau masih bisa ada waktu sambil jalan, sekolah lalu membuat prestasi di bidangnya masing-masing, bagus masa depannya. Yang jelas mereka harus kumpul di tim, berarti kan enggak di rumah, meninggalkan orang tua, keluarga. Yang namanya Pelatnas itu banyak pengorbanannya.

Untuk mengembangkan atlet panahan, apakah pemerintah dalam hal ini Kemenpora perlu membuat program pelatihan di setiap RT, RW, Kelurahan, dan seterusnya?

Itu sudah berjalan. Untuk kepelatihan sudah berjalan. Lalu pemerintah juga kalau setiap ada event besar, seperti di daerah mengadakan kejuaraan, atau kejuaraan antar klub, kan ada klub, di Jakarta ada klub. Nah itu akan dibantu apabila memang jelas pertandingannya. Akan dibantu dengan Menteri, dengan pemerintah, dan itu untuk semua cabor. Tinggal atlet-atletnya saja, siapa nih yang benar-benar melakukan prestasi ke jenjang internasional.

Presiden Joko Widodo berpartisipasi dalam kejuaraan panahan di Bogor,  Jawa Barat, Januari silam. (Foto: REPUBLIKA).

Apa kesulitan atlet untuk berprestasi?

Ya (harus) ulet saja, disiplin, satu. Kedua (jangan) cepat puas. Dia baru ikut kejuaraan, dia sudah juara, habis itu kemakan dengan dia seorang juara pada saat itu. Apalagi masing-masing cabor itu lain – hambatannya. Ada (atlet) yang bisa jadi acuan, ada yang kalau dia kemakan dengan diri dia sendiri, ada yang jatuh. Itu tuh masing-masing cabang. Jadi ada cabang keras, ada cabang rasa. Maksudnya melatih perasaan ‘dia kuat atau tidak, (begitu juga dengan) daya tahan fisik’. Kan masing cabang lain-lain.

Kalau kesulitan atlet di panahan sendiri?

Kalau di panahan, ya itu yang saya bilang ‘makan rasa’. Jadi kalau kita sudah berhasil di satu klub atau daerah, tidak boleh mempunyai kepuasan yang berlebihan. Dengan kepuasan yang berlebihan itu dia akan hilang kontrolnya. Sedangkan panahan itu berkali-kali dia harus melakukan hal yang sama sampai dia mempunyai feeling sendiri. Jadi enggak bisa panahan seperti cabang lain yang (menggunakan) emosi. Kalau di panahan emosi disimpan. Jadi memang olahrasa ya kalau panahan. Di samping itu juga fisiknya memang harus kuat. Kita latihan fisik juga sama seperti cabang olahraga lain. Namun bukan untuk melawan orang lain, tapi melawan diri sendiri.[]

Bersambung...


Editor. Hervin Saputra

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

PPP Ingin Cawapres Jokowi Senapas dengan Partai Islam

Minggu, 22 April 2018 11:17 WIB

"kita pastikan pak Jokowi mendapatkan pendamping paling sesuai."


Bulu Kuduk Anies Baswedan Berdiri Saat Cium Rambut dan Jenggot Nabi Muhammad

Minggu, 22 April 2018 11:16 WIB

Presiden Erdogan lalu memegang botol itu dan menciumnya. Kemudian ia berikan botol itu pada Anies.


Perang Laut Nelayan Tradisional vs Nelayan Pukat Trawl Belum Surut

Minggu, 22 April 2018 11:02 WIB

Pukat hela dan pukat tarik dan sejenisnya tidak dibenarkan lagi beroperasi di perairan Indonesia, sejak Januari 2018.


Petugas Imigrasi Lhokseumawe Sulit Data Pengungsi Rohingya karena Bahasa

Minggu, 22 April 2018 11:01 WIB

Dari hasil pemeriksaan semua pengungsi itu merupakan imigran ilegal.


Jeff Goldblum Bicara Soal Peran Ian Malcolm di Jurassic World: Fallen Kingdom

Minggu, 22 April 2018 11:00 WIB

Jeff Goldblum akan kembali berperan sebagai Dr. Ian Malcolm di Jurassic World: Fallen Kingdom.


Polemik Partai Allah dan Partai Setan, Rommy: Memang Dimaksud untuk Politik

Minggu, 22 April 2018 10:54 WIB

Ketum PPP Rohahurmuziy (Rommy) tak sepakat dengan ujaran Mantan Ketua MPR Amien Rais.


Beda Harga di Rak dan Kasir, Mana yang Dipakai?

Minggu, 22 April 2018 10:54 WIB

Konsumen berhak mendapatkan harga yang sesuai dengan yang sudah ditetapkan.


Sosialisasi KAI Access, PT KAI Ajak Masyakarat Hidup Sehat

Minggu, 22 April 2018 10:47 WIB

"Ini juga sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat."


Harga Bawang Dan Cabai di Ambon Alami Kenaikan

Minggu, 22 April 2018 10:45 WIB

Harga bawang dan cabai yang ditawarkan di pasar tradisional Kota Ambon terus bergerak naik.



Usai Mabuk Bareng, Tabrak Teman Sendiri sampai Tewas

Minggu, 22 April 2018 10:43 WIB

Setelah menabrak, Kamsin tidak segera menolong. Dia malah pergi ke Penjaringan.


AXA Dorong Masyarakat Hidup Sehat

Minggu, 22 April 2018 10:42 WIB

Peningkatan kesehatan menjadi salah satu dari 10 prioritas nasional yang telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo.


Nadine Chandrawinata Ingin Sambangi Pulau-pulau Tanpa Nama

Minggu, 22 April 2018 10:42 WIB

Pulau-pulau paling luar Indonesia menjadi incaran Nadine Chandrawinata. Baginya, pulau-pulau tersebut mengajarkan cara bertoleransi.


Preview: Arsenal Coba Bangkit di Tengah Perpisahan Wenger

Minggu, 22 April 2018 10:41 WIB

Arsenal akan menjamu West Ham di Emirates Stadium, nanti malam WIB.


3 Cara Agar Hidup Terasa Lebih Ringan

Minggu, 22 April 2018 10:39 WIB

Beban hidup seseorang tentunya berbeda-beda. Cara menghadapinya pun berbeda-beda.