Wawancara / Berita
Hari Pahlawan

"Kebanggaan Mengharumkan Nama Bangsa Tak Bisa Dibeli"

akurat logo
Luthfi Khairul Fikri
Jumat, 10 November 2017 11:38 WIB
Share akurat gplus
 
Gelandang Tim Nasional Indonesia, Evan Dimas Darmono, menganggap pengorbanan seorang atlet untuk negara dilakukan sejak masa kecil sang atlet
Gelandang Tim Nasional Indonesia, Evan Dimas Darmono, menganggap pengorbanan seorang atlet untuk negara dilakukan sejak masa kecil sang atlet
( QUIPPERVIDEO.WORDPRESS)

AKURAT.CO, Sejak usia 4 tahun, Evan Dimas Darmono selalu minta dibelikan bola kepada ibunya dan sering bermain di tanah lapang dekat rumahnya. Ketika menginjak kelas empat SD, Evan kecil minta dimasukkan ke sekolah sepakbola.

Namun, sebagai orang tua perempuan, ibunya sempat melarang. “Ia tak ingin anaknya ‘babak belur’ dan sering jatuh akibat bermain bola,” ucap Evan mengenang masa awal persentuhannya dengan sepakbola.

Kemauan yang sangat keras membuat ibunya luluh juga. Evan akhirnya masuk di Sekolah Sepakbbola (SSB) Sakti di Kompleks TNI AL, Surabaya. Di tengah rutinitas sebagai pelajar SDN Made I, Evan hanyut dengan jadwal SSB.

Kurang lebih tiga tahun belajar di SSB Sakti Bogowonto, Evan yang saat itu kelas enam dan akan masuk SMP minta pindah ke SSB Mitra Surabaya yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Tempat latihannya di dekat Kampus Unesa, Surabaya.

Di SSB yang baru, ia makin mantap mendapatkan gemblengan dan teknik bermain sepakbola. Hasilnya mulai terlihat dengan sejumlah kompetisi yang diikuti Evan – baik antar kabupaten dan kota se- Jawa Timur, bahkan mengikuti turnamen mewakili provinsi Jatim yang digelar sejumlah kota di luar Jawa.

Prestasi lainnya terus diukir, Evan tercatat pernah menjuarai sepakbola remaja tingkat provinsi se-Jatim, dengan mendapat juara pertama. Kemudian, pada 2010, kakak Tirsa Dian Maulana, Hanif Fathurrahman, dan Faridah Noviana itu dinyatakan lolos seleksi PON 2010.

Prestasi itu berlanjut dengan mengikuti PON di Palembang pada 2012. Kemudian Evan lolos seleksi Tim Nasional Indonesia U-19 yang diberangkatkan ke Spanyol untuk seleksi di Barcelona dan Hongkong. Saat bertanding di Hongkong, tim yang dibela olehnya juga menang dengan predikat juara satu.

Kemudian pada tahun 2013, Evan kembali dinyatakan lolos seleksi dan masuk ke AFF U-19 untuk Garuda Muda – julukan Timnas Indonesia U-19 – dalam didikan Indra Sjafri. Arek Surabaya yang lahir dan besar di kampung pinggiran Kota Surabaya itu pun mengikuti Training Center dan mendapat pelatihan non-stop di Yogyakarta.

“Saya juga terpilih menjadi kapten Timnas U-19, menjadi pencetak gol terbanyak, dan berhasil mengantarkan timnas juara Piala AFF pertama kalinya,” kata Evan.

Evan Dimas Darmono saat merayakan keberhasilannya membawa Tim Nasional Indonesia menjuarai Piala AFF U-19 2013. (Foto: TEMPO).

Berkat penampilannya yang gemilang bersama Timnas U-19, pada 2016 Evan terpilih masuk skuad sementara Timnas Indonesia senior yang saat itu dilatih oleh Alfred Riedl.

Selanjutnya, Evan mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan di RCD Espanyol B di Spanyol selama empat bulan. Setelah menjalani pelatihan di Spanyol, Evan kembali memperkuat Bhayangkara FC untuk mengarungi kompetisi liga 1 2017.

Kualitas permainannya yang semakin matang juga membuatnya kembali dipanggil oleh pelatih asal Spanyol, Luis Milla, untuk bergabung di Timnas Indonesia U-22 untuk mengikuti SEA Games Kuala Lumpur 2017. Di ajang itu, Evan dan rekan-rekan hanya mampu meraih medali perunggu setelah mengalahkan Myanmar dengan skor 3-1.

Evan Dimas, Gavin Kwan Adsit, dan Asnawi Mangkualam Bahar, usai kegagalan Tim Nasional Indonesia U-19 mengalahkan Malaysia di semifinal SEA Games 2017, Agustus silam. (Foto: AKURAT.CO/Sopian).

Atas raihannya itu semua, pemain yang kini tengah berusia 22 tahun itu mengaku, bangga bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional sebagai atlet lewat sepak bola.

“Saya bangga bisa mengibarkan bendera Indonesia di ajang internasional dan kebanggaan itu tidak bisa dibeli,” kata Evan.

Dalam suasana peringatan Hari Pahlawan, reporter AKURAT.CO, Luthfi Khairul Fikri, berkesempatan mewawancarai Evan lewat telepon seluler, Kamis (9/11) malam WIB. Evan berbicara tentang pengorbanan yang dilakukannya sejak masa kanak-kanak untuk sepakbola, kebanggaan saat menjuarai Piala AFF U-19 2013, dan impian yang selalu bisa digapai dengan kesungguhan. Berikut petikannya:

Prestasi apa yang paling Anda ingat dalam karir Anda selama ini?

Tentunya ya banyak sekali. Tapi membawa Indonesia U-19 meraih gelar Piala AFF U-19 di negara Vietnam itu kan kejuaraan besar di ASEAN. Itu juga merupakan medali pertama Indonesia kan.

Kemudian, membawa Indonesia U-23 meraih medali perunggu pada ajang Southeast Asian Games tahun 2017. Serta, mampu menembus ke timnas Indonesia dan meraih runner-up di AFF Championship 2016

Sedangkan untuk penghargaan individu, saya sedikit teringat pada gelar pemain muda terbaik di ajang Indonesia Soccer Championship tahun 2016. Serta, mampu menjajal trial bersama salah satu tim La Liga, Espanyol.

Evan Dimas kala melakukan uji coba di klub Spanyol, Espanyol B, pada 2015. (Foto: ISTIMEWA).

Apa saja pengorbanan yang Anda lakukan selama ini untuk Indonesia?

Wah, ini tak bisa diceritakan secara detil mungkin, karena ini banyak sekali. Tapi mungkin ini rata-rata bukan hanya saya saja, tapi semua atlet pasti memiliki pengorbanan. Baik atas sekolahnya, kuliahnya, jarang bermain di masa kecilnya. Karena itu yang saya sebutkan semua merupakan pengorbanan juga.

Dengan begitu, kita sudah mengorbankan itu semua, kalau kita tidak melakukan yang terbaik untuk negara ini, itu sia-sia sekali. Jadi semua itu pasti ada pengorbanannya.

Bagaimana perasaan Anda saat meraih prestasi pertama di kancah Internasional dan ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya?

Ini sangat bahagia, tak bisa diungkapkan kata-kata kala itu. Untuk pertama (kali lagi) kan menjadi juara di ASEAN itu. Kita bisa membawa piala, lalu menyanyikan Indonesia Raya, seperti itu. Jadi betapa bangganya saat itu. Tapi ya sesuai persiapannya yang keras pada saat itu kala dilatih coach Indra Sjafri.

Persiapannya sekeras apa?

Saat itu kita harus menjaga pola makan, menjaga pola tidur, dan di-gojlok pagi siang sore untuk terus latihan. Bener-bener ketat deh, tapi kan terbukti hasilnya bisa meraih gelar untuk bangsa ini.

Untuk mendapatkan gelar itu kembali, adakah wejangan untuk atlet muda?

Semua butuh waktu. Ya pengalaman mereka bertanding yang harus dilakukan. Pokoknya jangan tergantung pelatih, namun harus mampu berinisiatif sendiri agar menjadi pemain yang sukses di kemudian hari. Apalagi mampu mengharumkan Indonesia di mata Internasional.

Bagaimana pendapat anda tentang semua atlet sepak bola yang berprestasi dan mengharumkan bangsa?

Saya rasa intinya itu mereka memiliki disiplin yang ketat dalam hidupnya. Dengan disiplin diri ya kan, dia tahu. Jadi ‘gini, kalau seandainya orang mempunyai cita-cita, keinginan, tapi prosesnya itu enggak ada, dan enggak mempunyai dasar yang kuat, seperti saya bilang tadi disiplin, biar bagaimana juga akan susah jika tak sungguh-sungguh dalam latihannya, karena itu semua kembali ke dirinya masing-masing.

Seberapa pentingkah mengibarkan Merah Putih di kancah internasional?

Wah itu sangat penting sekali. Apalagi bisa membawa Indonesia meraih berbagai gelar di mata dunia. Karena, menurut saya, di dalam masing-masing atlet itu mempunyai jiwa tidak ingin terkalahkan, tapi sportivitas tinggi. Karena kalau bukan kita anak muda, siapa lagi kan?

Perjuangan itu proses, enggak kita bertanding langsung menang, enggak. Proses itu yang kita mesti lawan pertama-tama. Selesai itu proses, kita bertanding, baru kita bertemu dengan kemenangan.

Evan Dimas kala memberi tanda tangan di jersey Tim Nasional Indonesia untuk suporter Garuda Muda yang menghadiri laga Timnas U-22 kontra Kamboja. (Foto: AKURAT.CO/Sopian). 

Dengan prestasi Anda, apakah Anda setuju disebut sebagai pahlawan Negara?

Ya sebenarnya predikat menjadi pahlawan negara itu tergantung penilaian orang masing-masing. Namun, jika itu bisa membanggakan dengan prestasi untuk Indonesia di mata dunia, sah-sah saja karena memang itu sebuah perjuangan yang takkan dilupakan, baik khususnya untuk diri saya pribadi maupun untuk kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Menurut pandangan Anda, apa kesulitan atlet untuk berprestasi?

Nggak (ada) yang sulit. Mimpi itu pasti terjadi, enggak ada yang enggak mungkin. Ya (harus) sungguh-sungguh saja, disiplin, satu. Kedua jangan cepat puas. Ketiga jangan jemawa saja.

Ke depan ini ada Asian Games 2018, apa yang perlu dipersiapkan?

Asian Games di Indonesia, mungkin coach Luis Milla sudah mempersiapkan itu semua. Terdekat kami akan beruji coba melawan negara Suriah dan Guyana. Ini juga bisa menjadi persiapan kami untuk membentuk tim di ajang (Asian Games) nanti.[]

 


Editor. Hervin Saputra

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Gaya Rambut Dikritik, Pasha 'Ungu' Buka Suara

Selasa, 23 Januari 2018 12:30 WIB

Dikritik banyak orang karena model rambut, Pasha akui tak melanggar etika


DPRD DKI: Kebijakan Penataan Tanah Abang Anies, Mengadu Domba

Selasa, 23 Januari 2018 12:24 WIB

Pajak jalan dibebankan kepada sopir angkot, namun penggunaannya untuk PKL


Putri Titian Marah ke Junior Liem, Warganet Kok Ketawa?

Selasa, 23 Januari 2018 12:12 WIB

Putri Titian ungkapan kekesalannya kepada Junior Liem, namun warganet malah menertawainya. Ada apa?


Indika Energy Minat Saham DOID dari Northstar, Kedua Sahamnya Terus Hijau Sejak Pembukaan

Selasa, 23 Januari 2018 12:12 WIB

Reza: Pemberitaan Northstar Ini sebenernya masih belum jelas dijualnya kemana, dan dijual berapa persen


Peduli Pembangunan SDM Pemuda, Wali Kota Jayapura Terima Penghargaan

Selasa, 23 Januari 2018 12:10 WIB

Dengan adanya penghargaan ini nantinya lebih menegaskan kepedulian Pemerintah Kota Jayapura dalam program pembinaan masyarakat


[FOTO] Tokyo Tertimbun Salju Tebal

Selasa, 23 Januari 2018 12:02 WIB

0


Trailer 2 Rampage telah Hadir Secara Online

Selasa, 23 Januari 2018 11:59 WIB

Film Rampage direncanakan rilis pada 20 April 2018 mendatang.


Lewat Command Center, Bakamla Pantau Keamanan Laut Indonesia

Selasa, 23 Januari 2018 11:55 WIB

Keberadaan Bakamla Integrated Information System (BIIS) memungkinkan Bakamla memiliki wadah yang memfasilitasi secara terintegrasi


Jumanji: Welcome to the Jungle Kokoh di Puncak Box Office

Selasa, 23 Januari 2018 11:55 WIB

Film ini telah mendapat pemasukan sebesar 450 juta dolla AS secara internasional.


Polisi Janji Tindak Lanjuti Kasus Penembakan di Lipss Club

Selasa, 23 Januari 2018 11:52 WIB

Dalam kasus penembakan kader Gerindra ada dua kasus, yang pertama penembakan yang kedua pengeroyokan anggota Brimob


Indroyono Susilo: Industri Pariwisata Tumbuh Signifikan

Selasa, 23 Januari 2018 11:52 WIB

Indroyono: Industri pariwisata Indonesia sudah memiliki semua yang diperlukan tinggal dikemas dengan baik.


Terapi Suara Latih Otak Abaikan Tinitus

Selasa, 23 Januari 2018 11:50 WIB

Penderita tinitus kerap mendengarkan suara denging telinga yang bisa membuat kepala menjadi pusing.


Shutdown, Investor Makin Kebal Hadapi Drama AS

Selasa, 23 Januari 2018 11:48 WIB

Aksi harga di sebagian besar kelas aset menyiratkan bahwa pasar finansial semakin kebal menghadapi drama politik AS


Samsung Tangkis Tuduhan Perlambat Performa Ponsel Lama

Selasa, 23 Januari 2018 11:43 WIB

Banyak konsumen curiga dengan makin melambatnya kinerja ponsel lama beberapa brand terkenal.


Pusing Tidak Punya Uang, Seorang Bapak Curi Tape Mobil untuk Bayar Sekolah Anaknya

Selasa, 23 Januari 2018 11:41 WIB

Pelaku pencurian tape mobil mengaku jika berhasil dijual, uangnya untuk biaya sekolah sang anak