Wawancara / Berita

Free Hearty: Setelah Estetika Jangan Lupakan Etika

akurat logo
Herman Syahara
Jumat, 22 Desember 2017 15:12 WIB
Share akurat gplus
 
Dr Free Hearty, M.Hum,  kritikus dan pengamat sastra.
Dr Free Hearty, M.Hum, kritikus dan pengamat sastra.
(ANTARANEWS.COm)

AKURAT.CO, Jika ada pertanyaan ‘bagaimana nasib sastrawan di Indonesia?’ semua orang hampir kompak menjawab bahwa nasibnya tidak diperhatikan. Padahal kualitas karya sastra di negara ini diakui oleh banyak negara.

Free Hearty, seorang kritikus dan dan pengamat sastra menyebut bahwa dibanding negara lain, seperti negara-negara ASEAN, sastrawan Indonesia cukup memprihatikan. Selain menjawab hal tersebut, Free juga menyebut sejumlah fakta menarik tentang sastra Indonesia.

Ia misalnya memaparkan Mengapa dia merasa "galau" dengan prilaku sejumlah kecil   sastrawan Indonesia saat mejadi tamu di mancanegara? Apa makna sastra dan fungsinya dalam pergaulan antarmanusia dan antarnegara? Berikut adalah petikan wawancara dengan pendiri dan Ketua Umum (WPI) sampai dengan 2020 dan Ketua Umum dan penggagas Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negeri Serumpun (PSBNS) Free Hearty.

Beberapa hal yang disampaikan di bawah ini sering diungkapkannya dalam beberapa kesempatan sebagai penegasan dengan harapa  didengar para pemangku kepentingan di dunia sastra:

Bagaimana kiprah  sastrawan Indonesia di mancanegara?

Berbicara kiprah penyair Indonesia di mancanegara, sudah lama  terjalin.  Bahkan, buku-buku karya sastrawan Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachrie, atau Taufik Ismail, sudah  dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah Malaysia. Meskipun sifatnya memang lebih ke indivindu.

Lalu belakangan  muncul organisasi-organisasi "perkawinan" sastrawan antar  lima negara ASEAN. Ini baik dan luar biasa.

Namun, membangun hubungan itu sangat gampang. Yang susah adalah mempertahankannya. Di luar soal pentingnya  imajinasi, estetika, dan unsur penulisan karya sastra lainnya,  yang tak kalah penting yaitu etika. Bukan hanya di dalam karya, di dalam  hubungan antar manusia, etika pun sangat penting.

Bisa dijelaskan lebih rinci?

Dalam amatan saya, hubungan Indonesia dengan negara lain  seperti Malaysia, Singapura, dan negara sesama anggota ASEAN lain yang dibentuk dalam sebuah komunitas sastra seperti  Numera,  Ziarah Karyawan ((ZK), dan lainnya, sedang dalam tahap puncak-puncaknya atau eforia.

Namun ini bukan tanpa kendala. Sebagai orang tua yang sering diundang ke berbagai negara ASEAN, selalu ada pengaduan kepada saya. Dari pengaduan yang masuk, saya menyimpulkan, ada empat hal yang harus dijaga dalam menjalin hubungan dengan pihak lain di luar negeri, yaitu sikap respek. Maksudnya ada penghargaan terhadap pengundang.  Soalnya, ada kecenderungan,  beberapa sastrawan yang merasa dirinya  hebat lalu menganggap sastrawan dari negara lain kecil. Mereka  meremehkan dan merendahkan.

Saya mendengar sendiri ada sastrawan Indonesia yang  mengatakan karya sastra Malaysia itu rendah. Padahal di sana ada beberapa sastrawan Malaysia dan tentu merasa kaget.

Nah jangan pernah meremehkan orang lain walau diri kita hebat. Karena kualitas sebuah karya  sangat subjektif. Ada karya yang suatu masa diremehkan, namun pada saat lain dihargai. Bagus atau tidak bagus, berkualitas atau tidak, itu subjektif. Karena kita berada di ranah kemungkinan. Karena kita sastrawan bicara tentang mungkin. Mungkin terjadi di masa lalu, kini, atau masa depan.

Berbeda dengan sejarah yg berisi fakta. Kalau pun sastra bicara data, dia dikemas oleh imajinasi dan estetika. Dengan memahani ini  kita akan respek pada orang lain.

Yang kedua adalah responsibility. Kita punya tanggung jawab terhadap diri dan orang lain. Kenapa ini perlu? Berkaca kepada keberangkatan pertama saya ke Malaysia dulu, orang tidak mengenal saya. Maka sesuai pepatah "anda harus meniup terompet Anda sendiri". Tetapi ketika Anda meniup terompet Anda sendiri, jangan coba-coba menyanyikan terompet orang lain. Perkenalkan diri Anda sebenar-benarnya Anda. Jadi jangan perkenalkan diri Anda sebagai sarjana atau doktor sastra padahal bukan.   Dinding itu "bisa bicara" kok.

Ketiga, trust. Artinya, jagalah kepercayaan yang telah diberikan pihak atau negara  lain sebaik-baiknya.

Dan keempat, loyal. Loyal kepada diri, profesi, dan juga yang penting loyal kepada negara. Jangan ketika  kita sakit hati di dalam negeri, lalu menjelekkan negara kita di mata dunia. Kita tahu bahwa nasionalisme mereka sangat tinggi terhadap bangsa dan negaranya. Maka ketika ada orang kita yang diundang keluar negeri dan di sana membuat masalah, saya tidak menyalahkan pihak yang diundang namun saya menyalahkan kenapa tidak bertanya kepada saya atau bertanya kepada orang lain yang mengerti.

Kenapa sastrawan di luar Indonesia nampak agak lebih sejahtera?

Pemerintah Malaysia, Brunai, atau  Singapura sangat menghargai sastrawan. Regulasi-regulasi pemerintahnya sangat menguntungkan sastrawan. Ada penulis yang sudah tidak lagi produktif karena sakit, dijadikan penulis akademi. Ada juga lomba-lomba untuk sastrawan yg hadiahnya besar sampai ratusan juta. Mereka memberikan fasilitas untuk sastrawannya yang akan mengikuti seminar keluar negeri.

Bagamana perhatian pemerintah kita terhadap sastrawan?

Saya selalu mengatakan, sastrawan itu berjalan di jalan sunyi. Saya berkali-kali mengadakan acara tidak dibantu oleh pemerintah. Diover ke sana kemari saat mengantarkan proposal.

Tidak ada kepedulian dari  otoritas yang mengeluarkan regulasi, dalam hal ini pemerintah.

Di negara mana pun sastrawan tidak bisa lepas dari regulasi otoritas.

Jadi jangan disangka, menjadi penyair itu membuat Anda bisa kaya dan berduit, tidak.

Sekretaris Jenderal Penyair Dunia Maria Eugenis Soberanis, berulang kali meminta saya menggelar acara sastra di Indonesia. Lalu  saya mencoba mendatangi pihak otoritas terkait untuk meminta dukungan. Namun,  mereka bilang, kami dapat apa dari sastra? Miris.

Saya pernah dibisikinya:  "Free penyair di seluruh dunia itu miskin. Jadi kalau nanti bikin acara di Indonesia jangan cari hotel mahal. Carilah hotel yang murah tapi cukup representativ. Hal ini menguatkan kesan, jangan terlalu berharap dari menulis bisa kaya.

Jangan lihat penulis novel serial Harry Potter, JK Rowling.  Sebelum seperti sekarang karyanya pernah ditolak 20 kali.

Amerika, Jepang, Brunai, Malaysia, sedikit memberi perhatian lebih pada sastra. Malaysia bisa demikian karena memang bekas jajahan Inggris.

Wah, jadi sastrawan pesimis juga ya?

Jangan terlalu pesimis  karena akan ada waktunya  masa-masa cerah itu datang. Namun jangan mengatakan "kita bisa berjalan sendiri".  Mungkin memang bisa dengan jalan sendiri dengan ideologi yang tinggi, tapi lama-lama akan mati juga.

Terus terang saya katakan, ini tahun keenam saya bergerak sendiri.  Pada tahun  2016 saya pernah menggelar acara sastra intenasional di Yogyakarta yang dihadiri oleh delegasi lima negara luar.  Saya harus merogoh  uang sendiri Rp150 juta karena tidak ada bantuan dari otoritas. Karena acara harus tetap berjalan akibat saya sudah berjanji kepada lima negara lain. Saya merasa telah menyelamatkan Indoneaia. Tapi apakah otoritas tahu saya menyelematkan Indonesia? Tidak.

Di negara maju, sastra dianggap sebagai  jantung kehidupan  karena sastra melatih otak dan perasaan sehingga lebih lembut. Tapi adakah otoritas yang peduli? Tidak.

Penghargaan sastra Sea Write  kepada  Marzuki Rusli Saria datang dari Thailand, bukan dari otoritas kita. Makam sastrawan  Gerson Poyk saja  tidak diperhatikan.

Kita harus perjuangkan bersama agar   otoritas pemerintah kita  memberikan perhatian dan lebih peduli kepada sastrawan.

Dalam dua-tiga tahun terakhir, kegiatan bersastra nampak semakin menggeliat yang ditandai dengan maraknya  diskusi sastra, peluncuran buku  sastra, munculnya komunitas-komunitas sastra yang melahirkan  penulis-penulis muda  berbakat.  Sebenarnya apa sastra itu sehingga sedemikian diminati?

Sastra tidak bisa didefinisikan secara gamblang dan jelas. Dia akan terasa berbeda ketika dibandingkan dengan berita. Bahasa “harian” akan berbeda dengan bahasa sastra. Karena bahasa harian atau bahasa berita berfokus kepada maksud yang jelas, dan lugas untuk ditangkap maknanya. Jadi sifatnya adalah mono tafsir. Penafsiran tunggal.

Sedangkan sastra berfokus pada  Dulce et Utile, seperti kata Horatio: indah dan bermanfaat. Ada yang menambahkan indah bermanfaat itu dengan  etika, estetika, moral dan agama.  Tetapi ada juga yg menganut bahwa bersastra itu boleh bebas dengan imajinasi seliarnya. Karena sastra yg ditulis itu mati, dan pengarang sudah  dianggap mati. Pembacalah yang menghidupkannya.

Apa ciri-ciri karya ini bernilai sastra dan itu tak bernilai sastra?

Selalu terjadi pertentangan pendapat tentang ini karya sastra dan itu bukan karya  sastra. Perbedaan ini tentu lumrah saja dan harus disikapi dengan cerdas dan logika yang jelas, argumentative,  reasonable,  dan systematis.

Ada pula yang  mengatakan film bukan sastra. Lalu yang lain mempertanyakan, bagaimana bisa sebuah karya sastra yg difilmkan, karya yang dialih-mediakan menjadi visual kan hilang kesastraannya.

Perbedaan begini bisa saja hadir, tetapi cara memperdebatkannya yang bisa dibicarakan itu harus dengan saling menghargai pendapat. Apalagi jika tujuannya hendak membangun perdamaian.

Tidak harus dengan mengatakan pihak yang lain bodoh, dan pendapat kita saja yang benar. Ini akan menjadi titik perpecahan dan menjauh dari perdamaian.

Apa yang bisa diharapakan dari lahirnya komunitas-komunitas sastra?

Komunitas- komunitas sastra itu berperan sangat penting.  Dalam sebuah komunitaslah dibangun kekritisan berpikir para anggotanya.

Membedah buku  dan mendiskusikannya harus dengan sehat dan benar. Artinya, jangan ada yang  mendominasi diskusi dan merasa benar sendiri karena ini tidak sehat. Hal ini akan melatih anggotanya peka terhadap lingkungan.

Penyair atau seniman sering disebut-sebut harus sensitif.  Apa perbedaan "peka" yang Anda sebut di atas  dengan "sensitif"?

Arti peka berbeda dengan  sensitif.  Sensitif itu lebih kepada “perasaan” yang  merujuk diri dan membuat si pemilik diri merasakan berbagai macam perasaan.

Sedangkan peka lebih kepada kemampuan “membaca” dan merasakan perasaan orang lain dan sekitarnya. Kepekaan ini akan membimbing kita untuk menggunakan kata2 agar tidak menyinggung dan menyakiti orang  lain. Ini menjadi bagian dari membangun  perdamaian yg harmonis.

Peka tidak membangun untuk menjadi good follower saja, tetapi “good follower”  yg kritis dan mau berargumen dengan  santun tanpa mengecilkan orang  lain.

Sikap merasa benar sendiri dengan mengecilkan orang lain bukanlah sikap seorang ilmuwan. Ilmuwan sejati selalu siap menerima pendapat berbeda yg logis, analisis dan reasonable pula. Karena adanya kesadaran bahwa selalu akan ada perubahan baik dalam teori ataupun praktiknya.

Apa peran sastra  dalam membangun perdamaian?

Kita mungkin pernah mendengar adagium "bila politik memecah belah maka sastra yang mendamaikan".

Sastra itu seperti terapi jiwa yang bisa membuat rileks atau  kelegaan kepada seorang pengarang. Pengarang bisa mengekspresikan semua yang ada di kepala dan di perasaannya yang hasilnya akan membuat kelegaan kepada dirinya.

Sastra itu memang "seharusnya"  disampaikan dengan penuh etika, estetika, moral,  dan agama, sehingga memberi kesan damai, adem,  dan menyenangkan.

Bahkan, saat menyampaikan kritik tajam pun, seorang  sastrawan bisa menyampaikannya dengan tikaman yang tajam namun indah sehingga  tidak terasa tahu-tahu  sudah membuat  "berlumuran darah".  Bahkan pembaca ikut terhibur ketika tokoh yg diciptakan itu memancing benci dan amarahnya.

Bagaimana mengasah ketajaman pikir serta sikap kritis dan peka?

Harus terus menerus diasah dengan  membaca, berdiskusi, dan berdialog.

Adakah  konsekuensi seseorang yang telah memilih terjun ke dunia sastra?

Ketika seseorang  telah  memilih mencemplungkan diri ke  dalam dunia sastra dan budaya, maka jadilah manusia yg mengerti KESUSASTRAAN. Karena SU itu bermakna indah. Indah dan  santun dalam menggunakan diksi, meski tajam dengan sindiran yang ironis, sarkastis,  ataupun sinis.

Dan patut dicatat, sastra dan budaya tidak bisa dipisahkan. Bagaimana bergerak dalam dunia ini jika anda sendiri tidak berbudaya.[]


Editor. Islahuddin

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Berupaya Masukan Sabu ke LP, Kernet Mobil di Aceh Diamankan Polisi

Selasa, 22 Mei 2018 01:20 WIB

"Yang bersangkutan ditangkap setelah adanya laporan dari pihak petugas Lapas,"


Ruth Bader Ginsburg Hampir Menjadi Anggota X-Force Deadpool

Selasa, 22 Mei 2018 01:05 WIB

Seseorang mungkin ada memperhatikan ketika Deadpool sedang membalik-balik foto kandidat.


Dikritik, Tarawih Akbar di Monas Dipindahkan ke Masjid Istiqlal

Selasa, 22 Mei 2018 01:00 WIB

"Jadi kita mendengar apa yang disampaikan para ulama dan kita dalam urusan ibadah, urusan agama merujuk kepada para ulama,"


Ajang Penelitian di Malaysia, Tim SMA Matauli Pandan Raih Prestasi

Selasa, 22 Mei 2018 00:56 WIB

SMA Negeri 1 mengirimkan 13 tim peserta dengan jumlah siswa sebanyak 73 orang


Melawan, Penyelundup Sabu Kemasan Teh Cina Tewas Didor Polisi

Selasa, 22 Mei 2018 00:30 WIB

"Pada saat pengembangan tersangka Fatah mencoba melawan petugas, dilumpuhkan dengan tembakan,"


Jari 98 Dukung Faisal Assegaf Laporkan Politisi PKS ke Polda Metro Jaya

Selasa, 22 Mei 2018 00:20 WIB

"Itu langkah yang tepat dan patut kita dukung dengan keberanian saudara Faizal Assegaf,"


Madagaskar Muncul Sebagai Hotspot Baru Hiu Paus

Selasa, 22 Mei 2018 00:05 WIB

Hiu paus yang terancam punah ditemukan dalam jumlah besar.


Polisi Pastikan Ledakan di Gili Genting Karena Korsleting Listrik

Selasa, 22 Mei 2018 00:00 WIB

"Penyebabnya korsleting listrik, percikannya kena 'bondet' (bom ikan), sitaan polsek,"


PB HMI MPO Minta Tindakan Represif Oknum Polisi Terhadap Kader HMI Jakarta Diusut Tuntas

Senin, 21 Mei 2018 23:59 WIB

"Sesungguhnya Kepolisian tidak saja telah mengesampingkan apa yang diamanatkan oleh konstitusi, tetapi juga telah melanggar Protap Kapolri"


Amien Rais Nilai Poros Ketiga di Pilpres 2019 Mustahil Terbentuk, Karena Hanya Ada Jokowi dan Prabowo

Senin, 21 Mei 2018 23:55 WIB

Berdasarkan analisa poros ketiga itu mustahil. Kemungkinan ada dua kan rematch, jadi nanti pak Jokowi mencari cawapres yang nendang.


Hector Cuper, Kembalinya Mr Runner-Up

Senin, 21 Mei 2018 23:50 WIB

"Tantangan untuk mencapai Piala Dunia adalah tekanan terberat yang pernah saya hadapi," kata Hector Cuper.


Pidato 20 Tahun Reformasi, Zulkifli Hasan Singgung Daftar 200 Mubaligh yang Dikeluarkan Kemenag

Senin, 21 Mei 2018 23:28 WIB

Kemarin, baru-baru, Menteri Agama mengeluarkan rekomendasi 200 ustad. Ngawur itu. Blunder besar.


Bom Sitaan Meledak di Polsek Gili Genting Surabaya

Senin, 21 Mei 2018 23:23 WIB

"Memang ledakan di Polsek Gili Genting disebabkan oleh bom. Akan tetapi, itu bukan serangan dari kelompok teroris,"


Ketum PB HMI MPO Sebut Tindakan Polisi Terhadap Kadernya Benar-benar Keterlaluan

Senin, 21 Mei 2018 23:05 WIB

"Saya mengutuk dan menyayangkan tindakan respon aparat kepolisiam yang berlebihan"


Dalam 2 Bulan, BNN Tangkap 2 Jaringan Narkoba

Senin, 21 Mei 2018 22:59 WIB

"Penangkapan di jalan Medan-binjai, Sumut. Barang bukti 30 kilogram sabu dikemas dalam bungkus teh china,"